<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4347253951497962972</id><updated>2011-11-09T23:36:22.555-08:00</updated><title type='text'>info TAUBAT</title><subtitle type='html'>Kliping Internet</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://aa-taubat.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Akang Ganteng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14636739127904972103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4347253951497962972.post-1583534771543133402</id><published>2009-08-25T18:26:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T18:39:54.322-07:00</updated><title type='text'>Hakikat Istighfar dan Taubat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_YsM4nQ7UyZk/SpSSYJzLeWI/AAAAAAAAAHU/1uyN8OV2BZ8/s1600-h/taubat.png"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_YsM4nQ7UyZk/SpSSYJzLeWI/AAAAAAAAAHU/1uyN8OV2BZ8/s320/taubat.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5374081199004940642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang menyangka, bahwa istighfar dan taubat hanyalah dengan lisan semata. Sebagian mereka mengucapkan: &lt;br /&gt;(Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya). Tetapi kalimat-kalimat tersebut tidak mem-bekas di dalam hati, juga tidak berpe-ngaruh dalam perbuatan anggota badan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi menjelaskan: "Para ulama berkata, 'Bertaubat dari setiap dosa hukumnya wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, maka syaratnya ada tiga. Pertama, menjauhi maksiat tersebut. Kedua, menyesali perbuatan (maksiat)nya. Ketiga, berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika taubat itu berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat. Ketiga syarat di atas dan keempat, hendaknya ia membebaskan (meme-nuhi) hak orang tersebut. Jika berbentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengembalikan-nya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau sejenisnya maka ia harus memberinya kesempatan untuk melakukannya atau meminta maaf kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf." (Riyadhush Shalihin, hal. 33). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan istighfar, sebagaimana diterangkan Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani adalah, "Meminta (ampun-an) dengan ucapan dan perbuatan." Adapun firman Allah: &lt;br /&gt;(Mohonlah ampun kepada Tuhan-mu, sesungguhnya Dia Maha Pengam-pun) tidaklah berarti bahwa mereka diperintahkan meminta ampun hanya dengan lisan semata, tetapi dengan lisan dan perbuatan. Bahkan hingga dikatakan, memohon ampun (istighfar) hanya dengan lisan saja tanpa disertai perbuatan adalah pekerjaan para pendusta." (Al-Mufradat fi Gharibil Qur'an, hal. 362). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar (Syari'at) Hukum Islam Bahwa Istighfar dan Taubat Termasuk Kunci Rizki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang disebutkan Allah SWT tentang Nuh AS yang berkata kepada kaumnya: &lt;br /&gt;"Maka aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu', sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai'." (Nuh: 10-12). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat di atas menerangkan cara mendapatkan hal-hal berikut ini dengan istighfar: &lt;br /&gt;Ampunan Allah terhadap dosa-dosanya. Berdasarkan firmanNya: &lt;br /&gt;"Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan yang lebat. &lt;br /&gt;Harta dan anak yang banyak. &lt;br /&gt;Allah akan menjadikan untuk-nya kebun-kebun. &lt;br /&gt;Allah akan menjadikan untuk-nya sungai-sungai. (Tafsir Al-Qurthubi, 18/302. Lihat pula, Al-Iklil fis Tinbathit Tanzil, hal. 274, Fathul Qadir, 5/417). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muthrif meriwayatkan dari Asy-Sya'bi: "Bahwasanya Umar t keluar untuk memohon hujan bersama orang banyak. Dan beliau tidak lebih dari mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) sampai beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, 'Aku tidak mendengar Anda memohon hujan'. Maka beliau membaca ayat: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mohonlah ampun kepada Tuhan-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengi-rimkan hujan kepadamu dengan lebat." (Tafsir Al-Khazin, 7/154; Ruhul Ma'ani, 29/72). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya, 'Beristighfarlah kepada Allah!'. Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, 'Ber-istighfarlah kepada Allah!' Yang lain lagi berkata, 'Do'akanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!' maka beliau mengatakan kepadanya, 'Beristighfarlah kepada Allah!' Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula), 'Beristigh-farlah kepada Allah!'." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Ar-Rabi' bin Shabih berkata kepadanya, 'Banyak orang yang mengadukan bermacam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua untuk beristighfar.' Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, 'Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mohonlah ampun kepada Tuhan-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengi-rimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan meng-adakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai'." (Nuh: 10-12). (Tafsir Al-Qurthubi, 18/302-303. Lihat pula, Tafsirul Kasysyaf, 4/192 dan Al-Muharrar Al-Wajiz, 16/123). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat lain adalah firman Allah yang menceritakan tentang seruan Hud alaihis shalatu was salam kepada kaumnya agar beristighfar: &lt;br /&gt;"Dan (Hud berkata), 'Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menunrunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan menam-bahkan kekuatan kepada kekuatan-mu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa'." (Hud: 52). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia di atas menyatakan: "Kemudian Hud memerintahkan kaumnya untuk ber-istighfar yang dengannya dosa-dosa yang lalu dihapuskan, kemudian memerintahkan mereka bertaubat untuk masa yang akan mereka hadapi. Barangsiapa memiliki sifat seperti ini, niscaya Allah memudah-kan rizkinya , melancarkan urusannya dan menjaga keadaannya. Karena itu Allah berfirman: &lt;br /&gt;"Niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu." (Tafsir Ibnu Katsir, 2/492. Lihat pula, Tafsir Al-Qurthubi, 9/51). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat lain adalah firman Allah: &lt;br /&gt;"Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertau-bat kepadaNya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutama-an (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat." (Hud: 3). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata: "Ayat yang mulia tersebut menunjukkan bahwa ber-istighfar dan bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa adalah sebab sehingga Allah menganugerahkan kepada orang yang melakukannya berupa kenik-matan yang baik sampai pada waktu yang ditentukan. Allah memberikan balasan (yang baik) atas istighfar dan taubat itu dengan balasan berdasarkan syarat yang ditetapkan." (Adhwa'ul Bayan, 3/9). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits riwayat Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa'i, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas s ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: &lt;br /&gt;"Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan setiap kesempitannya kelapangan dan Allah memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (Al-Musnad, no. 2234, 4/55-56 dan lafazh tersebut adalah redaksi milik-nya; Sunan Abi Daud, no. 1515, 4/267; Kitabus Sunan Al-Kubra, no. 2/10290, 6/118; Sunan Ibnu Majah, no. 3864, 2/339; Al-Mustadrak 'alash Shahihain, 4/292). Dan Rasulullah bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beruntunglah orang yang menda-pati dalam shahifah (catatan amalnya) istighfar yang banyak." (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan shahih)." (Aunul Ma'bud, 4/267). &lt;br /&gt;Dalam hadits yang mulia ini Nabi mengabarkan tiga hasil yang dipetik oleh orang yang memperbanyak istighfar. Salah satunya yaitu, rizki dari Allah Yang Maha Memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak diharapkan serta tidak terdetik dalam hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rizki agar bersegera memperbanyak istighfar (memohon ampun) dan taubat, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Dan hendaknya setiap muslim waspada dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan lisan tanpa perbuatan. Sebab ia adalah pekerjaan para pendusta.&lt;br /&gt;Wallahu a'lam. (ain). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mafatihur Rizq fi Dhauil Kitabi was Sunnah &lt;br /&gt;Dr. Fadhl Ilahi&lt;br /&gt;http://www.alsofwah.or.id/cetakannur.php?id=102&lt;br /&gt;26 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Gambar:&lt;br /&gt;Rumzan&lt;br /&gt;http://media.photobucket.com/image/taubat/rumzan/taubat.png&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4347253951497962972-1583534771543133402?l=aa-taubat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aa-taubat.blogspot.com/feeds/1583534771543133402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/hakikat-istighfar-dan-taubat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/1583534771543133402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/1583534771543133402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/hakikat-istighfar-dan-taubat.html' title='Hakikat Istighfar dan Taubat'/><author><name>Akang Ganteng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14636739127904972103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_YsM4nQ7UyZk/SpSSYJzLeWI/AAAAAAAAAHU/1uyN8OV2BZ8/s72-c/taubat.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4347253951497962972.post-1858292646279492739</id><published>2009-08-25T18:21:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T18:23:27.844-07:00</updated><title type='text'>Saat Tepat Memulai Taubat</title><content type='html'>Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan juga berkah. Allah membuka lebar-lebar pintu surga, dan menutup rapat-rapat pintu neraka pada bulan ini. Maka akan sangat tepat, bila bulan ini kita jadikan start untuk memulai tobat dari berbagai dosa dan maksiat yang telah kita perbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keutamaan Taubat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia pasti tidak luput dari dosa dan kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak. Karena itulah kita disyariatkan untuk selalu memohon ampunan kepada Allah, dan segera bertobat bila melakukan kesalahan. Allah berfirman,&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri." (Al-Baqarah: 222)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Az-Zumar: 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, Allah membukakan pintu ampunan dengan seluas-luasnya bagi seluruh orang yang berdosa dan melakukan kesalahan. Meskipun dosa mereka setinggi langit sekalipun.  Sebagaimana sabda Rasulullah, "Jika kalian melakukan kesalahan-kesalahan (dosa) hingga kesalahan kalian itu sampai ke langit, kemudian kalian bertobat, niscaya Allah  akan memberikan tobat kepada kalian." (Riwayat Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara keutamaan orang-orang yang bertobat adalah Allah menugaskan para malaikat muqarrabin untuk beristighfar bagi mereka serta berdoa kepada Allah agar Dia menyelamatkan mereka dari azab neraka dan memasukkan mereka ke dalam surga, serta menyelamatkan mereka dari keburukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman, "(Malaikat-malaikat) yang memikul 'arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya, serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka kedalam surga 'Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shalih di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya, dan itulah kemenangan yang besar." (Ghafir: 7--9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikuti Dengan Perbaikan dan Amal Shalih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Orang yang bertaubat hendaknya mengiringi taubatnya itu dengan melakukan perbaikan-perbaikan dalam kehidupannya. Kesungguhannya dalam bertaubat dia tunjukkan dengan berusaha semaksimal kemampuannya untuk meninggalkan dosa dan maksiat yang selama ini dilakukannya, serta mengadakan berbagai perbaikan dan meningkatkan amal shalih dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah firman Allah, "Maka barangsiapa yang bertobat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu, dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Maidah: 39)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertobat setelah mengerjakannya, dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-An'aam: 54)&lt;br /&gt;"Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertobat setelah itu, dan memperbaiki (dirinya). Sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (An-Nahl: 119)&lt;br /&gt;Jika seseorang menyatakan diri bertobat, namun ia masih terus-menerus mengulangi perbuatan dosa/maksiatnya, maka sesungguhnya dia belum bertobat dengan sebenar-benarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon Ampun Setelah Shalat&lt;br /&gt;Dari Ali, bahwa Rasulullah bersabda, “Tidaklah seseorang melakukan perbuatan dosa lalu dia bangun dan bersuci, kemudian mengerjakan shalat, dan setelah itu memohon ampunan kepada Allah, melainkan Allah akan memberikan ampunan kepadanya.” (Riwayat Tirmidzi)&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa doa mohon ampunan kepada Allah yang dapat dibaca setelah shalat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi” (Al-A’raf: 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku banyak menganiaya diriku dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau. Oleh karena itu ampunilah dosa-dosaku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan berikan rahmat kepadaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu kita juga disunnahkan untuk memperbanyak istigfar. Bukankah Rasulullah n saja, yang sudah dijamin surga dan diampuni dosanya, masih selalu beristigfar tak kurang dari 70 kali dalam sehari? Maka selayaknya kita sebagai hamba biasa, bukan nabi atau rasul, juga selalu beristigfar dalam setiap kesempatan.&lt;br /&gt;Khusus pada bulan Ramadhan, kita disunnahkan pula untuk memperbanyak doa berikut ini setelah shalat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: "Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Ya Allah ampunilah dosa-dosaku, masukkanlah aku ke surga dan lindungilah aku dari neraka. Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, maka maafkanlah kesalahan-kesalahanku ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, di bulan yang penuh berkah ini, marilah kita sambut seruan Allah, "Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa ...; dan juga orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri (segera) mengingat Allah, lalu mohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. Balasan bagi mereka adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal." (Ali Imran: 133,135, dan 136)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah menerima tobat kita, memudahkan kita dalam melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta membukakan pintu surga-Nya bagi kita semua. Aamiin ....(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;http://majalah-nikah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;catid=41:edisiagustus&amp;id=116:tepat-memulai-taubat&lt;br /&gt;26 Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4347253951497962972-1858292646279492739?l=aa-taubat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aa-taubat.blogspot.com/feeds/1858292646279492739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/saat-tepat-memulai-taubat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/1858292646279492739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/1858292646279492739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/saat-tepat-memulai-taubat.html' title='Saat Tepat Memulai Taubat'/><author><name>Akang Ganteng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14636739127904972103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4347253951497962972.post-7672186279631740703</id><published>2009-08-25T18:13:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T18:15:55.268-07:00</updated><title type='text'>Hikmah Shalat Taubat</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalammualaikum Ustad...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ustad, apa keutamaan sholat taubat dan bagaimana mengenai pelaksanaan dan bacaan dari sholat taubat itu sendiri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mohon penjelasannya..., terima kasih...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;dd aja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawaban :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waalaikumussalam Wr Wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama bersekapat bahwa shalat taubat ini disunnahkan sebagaimana diriwayatkan dai Abu Bakar bahwa dia mendengar Rasulullah saw bersabda,”Tidaklah seseorang yang berdosa lalu dia berwudhu kemudian melaksanakan shalat lalu memohon ampun kepada Allah kecuali Allah akan memberikan ampunan kepadanya… kemudia beliau saw membaca firman Allah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ ﴿١٣٥﴾&lt;br /&gt;أُوْلَئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ ﴿١٣٦﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Al Imron : 135 – 136)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani didalam “al Mu’jam al Kabir” dengan sanad yang hasan dari Abud Darda bahwa Nabi saw bersabda,”Barangsiapa yang berwudhu kemudian membaguskan wudhunya lalu mengerjakan shalat dua rakaat atau empat rakaat, baik ia shalat wajib atau bukan yang wajib, membaguskan ruku’ dan sujudnya kemudian memohon ampunan kepada Allah maka Allah swt akan mengampuninya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh ‘Athiyah Saqar mengatakan itulah shalat taubah. Yang terpenting adalah hendaklah taubat dan istighfar senantiiasa dilakukan setelah shalat, shalat apa saja. Sesungguhnya berdoa dan memohon ampunan apabila dilakukan setelah suatu perbuatan ketaatan seperti shalat atau membaca al Qur’an maka ia akan dikabulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula shalat taubat apabila seseorang melakukan dosa maka taubat baginya adalah suatu kewajiban yang harus segera dilakukan dan disunnahkan baginya untuk melakukan shalat dua rakaat kemudian bertaubat sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Bakar ash Shiddiq. (Fatawa al Azhar juz IX hal 153)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tentang bacaannya maka tidak ada riwayat atau dalil yang menyebutkan adanya bacaan-bacaan atau surat-surat khusus saat melaksanakan shalat taubat ini. (29 Juni 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ustadz Sigit Pranowo, Lc.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/sholat-taubat.htm&lt;br /&gt;26 Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4347253951497962972-7672186279631740703?l=aa-taubat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aa-taubat.blogspot.com/feeds/7672186279631740703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/hikmah-shalat-taubat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/7672186279631740703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/7672186279631740703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/hikmah-shalat-taubat.html' title='Hikmah Shalat Taubat'/><author><name>Akang Ganteng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14636739127904972103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4347253951497962972.post-8079780502287083444</id><published>2009-08-25T18:10:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T18:11:35.528-07:00</updated><title type='text'>Taubat</title><content type='html'>Makna Taubat&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “makna taubat secara bahasa adalah kembali, sedangkan menurut perngertian syar’i taubat adalah kembali dari maksiat kepada Allah Ta’ala menuju ketaatan kepada-Nya. Dan taubat yang paling agung serta paling wajib adalah taubat dari kekafiran kepada keimanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَف&lt;br /&gt;“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, Jika mereka berhenti (bertaubat dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu”. (Al-Anfal:38).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tingkatan taubat berikutnya adalah taubat dari dosa-dosa besar, berikutnya taubat dari dosa-dosa kecil. Dan wajib bagi setiap manusia untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari setiap dosa”. (Syarah Riyadhus Shalihin 1/38).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban Bertaubat&lt;br /&gt;Bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan kewajiban yang diperintahkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nashuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai” (At-Tahrim:8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ&lt;br /&gt;“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (An-Nur:31).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن الأَغَرِّ بنِ يسار المزنِيِّ – رضي الله عنه – ، قَالَ : قَالَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – : ((يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ)) رواه مسلم&lt;br /&gt;Dari al-Agar bin Yasar radhiyallahu’anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah Ta’ala, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari seratus kali”. (HR. Muslim, no. 7034).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah, “Para Ulama telah sepakat (ijma’) atas wajibnya taubat, karena perbuatan-perbuatan dosa dapat membinasakan pelakunya dan menjauhkannya dari Allah Ta’ala, maka wajib menghindarinya dengan segera”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kewajiban taubat harus dilaksanakan dengan segera dan tidak boleh ditunda-tunda, karena semua perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam harus dilaksanakan dengan segera jika tidak ada dalil yang membolehkan penundaannya. Bahkan para Ulama menjelaskan bahwa menunda taubat merupakan suatu perbuatan dosa yang membutuhkan taubat tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat-Syarat Taubat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Pertama: Ikhlas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah seorang bertaubat dengan niat yang ikhlas, yaitu semata-mata mencari keridhaan Allah Ta’ala dan agar mendapatkan ampunan-Nya, bukan karena ingin dipertontonkan kepada manusia (riya’), atau hanya karena takut kepada penguasa, ataupun kepentingan-kepentingan duniawi lainnya. Karena taubat kepada Allah Ta’ala adalah termasuk ibadah yang harus memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan mutaba’ah (mencontoh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Kedua: Menyesali perbuatan dosa yang telah terlanjur dilakukan&lt;br /&gt;Karena penyesalan menunjukkan kejujuran taubat seseorang, oleh karenanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;النَّدَمُ تَوْبَة&lt;br /&gt;“Penyesalan adalah taubat”. (HR. Ibnu Hibban dan al-Hakim, dishohihkan asy-Syaikh al-Albani dalam Shohihut Targhib, no. 3146, 3147).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Ketiga: Meninggalkan dosa&lt;br /&gt;Meninggalkan dosa termasuk syarat taubat yang paling penting, sebab itu adalah bukti benarnya taubat seseorang, maka tidak diterima taubatnya apabila ternyata dia masih terus-menerus melakukan dosa tersebut. Berkata al-Imam Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah, “permohonan ampun tanpa meninggalkan dosa adalah taubatnya para pendusta”. (Tafsir al-Qurthubi 9/3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun cara meninggalkan dosa, jika berupa kewajiban yang ditinggalkan; adalah dengan melaksanakan kewajiban itu. Sedangkan dosa melakukan perbuatan haram, maka wajib untuk segera meninggalkan perbuatan haram tersebut dengan segera dan tidak boleh terus melakukannya meskipun hanya sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Keempat: Bertekad untuk tidak mengulang kembali perbuatan dosa tersebut di masa mendatang&lt;br /&gt;Apabila di dalam hati seseorang masih tersimpan keinginan untuk kembali melakukan dosa tersebut jika ada kesempatan, maka tidak sah taubatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Kelima: Apabila dosa tersebut berupa kezaliman kepada orang lain, maka harus meminta maaf dan atau mengembalikan hak-hak orang lain yang diambil dengan cara yang batil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apabila seorang pernah mencaci orang lain maka hendaklah dia meminta pemaafan orang tersebut, atau seorang yang pernah mencuri harta orang lain maka hendaklah dia meminta maaf dan mengembalikan harta tersebut atau meminta penghalalannya. Apalagi, kezaliman kepada orang lain merupakan dosa besar yang mengakibatkan kebangkrutan besar pada hari kiamat. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ. قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ&lt;br /&gt;“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu, mereka menjawab, orang yang bangkrut adalah orang yang tidak (lagi) memiliki dinar dan harta. Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, sesungguhnya orang yang bangkrut dari ummatku adalah seorang yang datang (menghadap Allah Ta’ala) pada hari kiamat dengan (membawa pahala) sholat, puasa, zakat, namun ketika di dunia dia pernah mencaci fulan, menuduh fulan, memakan harta fulan, menumpahkan darah fulan, memukul fulan. Maka diambillah kebaikan-kebaikan yang pernah dia lakukan untuk diberikan kepada orang-orang yang pernah dia zalimi. Hingga apabila kebaikan-kebaikannya habis sebelum terbalas kezalimannya, maka kesalahan orang-orang yang pernah dia zalimi tersebut ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilempar ke neraka”. (HR. Muslim, no. 6744).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Keenam: Taubat harus pada waktunya&lt;br /&gt;Apabila seseorang baru mau bertaubat setelah lewat waktunya, maka taubatnya tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala. Adapun waktu diterimanya taubat untuk setiap manusia adalah sebelum kematian datang menjemputnya. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآَنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا&lt;br /&gt;“Dan tidaklah taubat itu bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan sampai ketika datang kematian kepada salah seorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati dalam keadaan kafir, bagi mereka telah Kami sediakan siksa yang pedih”. (An-Nisa’:18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan waktu diterimanya taubat untuk keseluruhan manusia adalah selama matahari belum terbit dari barat. Rasulullah shallallahu’alaihi wa slam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar bertaubat orang yang berbuat salah pada siang hari. Dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar bertaubat orang yang berbuat salah pada malam hari, (hal ini terus terjadi) sampai terbit matahari dari barat” (HR. Muslim, no. 7165).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahaya Meremehkan Dosa&lt;br /&gt;Inilah salah satu penghalang taubat, yaitu ketika seseorang meremehkan perbuatan dosa yang dia lakukan karena menganggapnya sebagai dosa kecil. Justru apabila seseorang menganggap remeh perbuatan maksiatnya kepada Allah Ta’ala maka dia telah terjatuh pada dosa besar, karena perbuatan menganggap remeh dosa merupakan satu bentuk dosa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dosa kecil sekali pun apabila dilakukan terus menerus, tentu akan menjadi dosa besar, sebagaimana hakekat lautan yang luas hanyalah kumpulan tetesan-tetesan air yang sanggup menjadi ombak yang besar. Demikianlah dosa-dosa kecil, apabila berkumpul pada diri seseorang niscaya akan membinasakannya. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إياكم ومُحقراتُ الذنُوبِ، كقَومٍ نَزلُوا في بطْنِ وادٍ فجاءَ ذا بعودٍ ، وجاء ذا بعودٍ حتى أنضَجُوا خبزتهم ، وإنَّ محقَّراتِ الذُّنوب متى يُؤخذ بها صاحبُها تُهلِكْهُ&lt;br /&gt;“Hati-hatilah dengan dosa-dosa kecil, (karena dosa-dosa kecil itu) bagaikan suatu kaum yang turun di suatu lembah dan masing-masing orang membawa satu ranting kayu bakar yang pada akhirnya bisa menyalakan api hingga mereka bisa memasak roti mereka. Demikianlah dosa-dosa kecil, apabila berkumpul dalam diri seseorang niscaya akan membinasakannya”. (HR. Thabrani, dishohihkan asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shohihah, no. 3102).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hendaklah setiap kita bersegera untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala, terlebih lagi ketika kita tidak mengetahui kapan kita akan dipanggil oleh Allah Ta’ala dan berpisah dengan kehidupan dunia ini, untuk kemudian dimintai pertanggungjawaban atas setiap perbuatan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan janganlah seseorang berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah Ta’ala betapa pun besarnya dosa yang telah dia kerjakan, karena hakekat seorang hamba yang baik bukanlah yang tidak pernah berbuat dosa sama sekali, bahkan hamba Allah Ta’ala yang terbaik adalah seorang yang apabila dia berbuat dosa, dia senantiasa bertaubat kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ بنِي آدَمَ خَطَّاءٌ ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ&lt;br /&gt;“Setiap anak adam senantiasa berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang senantiasa bertaubat”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan asy-Syaikh al-Albani dalam Shohihut Targhib, no. 3139).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wabillahit taufiq, walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. (7 Juni 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;Abu Abdillah Sofyan&lt;br /&gt;http://kajiansalafyui.wordpress.com/2009/06/07/taubat/&lt;br /&gt;26 Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4347253951497962972-8079780502287083444?l=aa-taubat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aa-taubat.blogspot.com/feeds/8079780502287083444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/taubat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/8079780502287083444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/8079780502287083444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/taubat.html' title='Taubat'/><author><name>Akang Ganteng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14636739127904972103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4347253951497962972.post-3983592403080177393</id><published>2009-08-25T18:05:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T18:06:35.481-07:00</updated><title type='text'>Hakekat Taubat</title><content type='html'>“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah. Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beuntung.” (Q.S. An Nur: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup kita jumpai berbagai macam persoalan yang kadang-kadang sulit diselesaikan atau mungkin jalan yang kita tempuh tidak selalu datar. Terkadang mendaki terkadang menurun dan berbelok-belok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan hidup seperti ini sering menyebabkan orang menjadi tidak sabar, khilafdan lalaiterhadap Allah SWT, akibatnya perbuatannya salah dan dosa karena melanggar aturan dan perintah Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam agama Islam kita mengenal istilah taubat, berarti kembali kejalan Allah dengan&lt;br /&gt;meninggalkan segala kemaksiatan dan menysali sepenuhnya. Para ulama mengatakan bahwa taubat dari perbuatan dosa adalah wajib. Dan apabila perbuatan dosa itu tidak bersangkutan dengan manusia, maksudnya hanya dosa antara makhluq dengan khaliqnya, maka ada tiga syarat yang harus dipenuhi. Tiga syarat itu adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, menghentikan perbuatan dosa itu.&lt;br /&gt;Kedua, menyesali atas perbuatan dosa tersebut.&lt;br /&gt;Ketiga, berketeguhan hati untuk tidak mengulangi lagi perbuatan dosa itu untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga persyaratan di atas mutlak adanya, tanpa tiga syarat ini, maka tidak diterima taubat seseorang itu. Namun apabila perbuatan dosa itu menyangkut dengan manusia, maka pelaksanaan tobatnya harus terpenuhi empat syarat. Tiga syarat seperti telah tersebut di atas, dan satu syarat lagi harus menyelesaikan urusan tersebut kepada orang yang bersangkutan. Jika urusan itu ada kaitannya dengan utang piutang, ia harus mengembalikannya. Dan jika itu ada kaitannya dengan sumpah dan tuduhan serta yang serupa dengan itu, ia harus meminta maaf kepada orang yang bersangkutan. Begitu pula jika hal itu ada kaitannya dengan umpat mengumpat, ia harus meminta dihalalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali ayat-ayat danhadits Nabi yang mewajibkan kita harus segera bertaubat. Diantara ayat-ayat al-Qur’an itu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan mohonlah ampun dan Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sungguh, Tuhanku Maha Penyayang penuh kecintaan. ” (OS. Hud : 90).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang her/man / bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sesungguhnya. Semoga Tuhanmu memperbaiki kesalahanmu. Dan memasukkan ke taman-taman yang mengalir, sungai-sungai di dalamnya. Pada hari ketika Allah tiada membiarkan nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya di hina … ” (QS. Al- Tahrim : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun di dalam hadits Nabi diterangkan “Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kamu sekalian kepada. Allah karena sesungguhnya saya bertaubat seratus kali seharinya“. (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah lebih bergembira untuk menerima taubat hamba-Nya melebihi dari kegembiraan seseorang di antara kamu sekalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang dipadang Sahara.” (H.R. Bukhari - Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah SWT membentangkan kekuasaannya pada waktu malam, untuk menerima taubat orang yang berbuat jahat pada siang harinya. Dan membentangkan kekuasaannya pada waktu siang, untuk menerima taubatnya orang yang jahat pada lama harinya. Yang demikian itu terus berlangsung sampai matahari terbit dari sebelah Barat, Kiamat” (H.R. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan maksiat atau dosa mempunyai dampak yang pasti, meskipun tidak dapat dilihat oleh indra mata. Dengan alasan inilah banyak diantara manusia tetap tenggelam dalam perbuatan maksiat dan dosa itu. Sehingga akhirnya enggan melaksanakan taubat, meskipun ia tetap beriman. Faktor lain yang membuat manusia cenderung untuk melakukan perbuatan dosa, karena kelezatan syahwat yang mendorong ke arah itu spontan cepat dirasakan. Itulah sebabnya manusia sering gelap mata, tidak mau tahu lagi mana yang halal dan mana yang haram, mana maksiat dan mana yang taat, padahal semua itu ada perhitungannya di sisi Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh Allah Maha Tahu, bahwa manusia cenderung untuk berbuat dosa, oleh karenanya Allah sediakan sarana untuk manusia yang berbuat dosa, agar menjadi suci kembali seperti semula. Sarana itu tiada lain adalah taubat. Andaikata tidak ada taubat, kita dapat membayangkan manusia semua masuk neraka. Kenapa hal ini terjadi 1 Karena manusia itu tidak sunyi dari perbuatan salah dan dosa. Baginda Nabi besar Muhammad SAW telah bersabda dalam sebuah hadits : “Setiap anak Adam tidak sunyi dari kesalahan dan dosa dan sebaik-baiknya orang yang berbuat salah dan dosa adalah orang yang bertaubat.” (AI-Hadits).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT Maha Pengampun, mengampuni dosa manusia, sebesar apapun dosa yang ia perbuat. Nabi bersabda: “Walaupun kamu sekalian berbuat dosa memenuhi langit dan bumi, kemudian kamu menyesali dan memohon ampun kepada Allah, maka Allah senantiasa menerima taubatmu.” Berkaitan dengan hadits ini, ada suatu peristiwa yang sangat menarik. Pada suatu hari Rasulullah berjalan bersamaAbu Hurairah. Rasulullah terlebih dahulu memasuki Mesjid, sedang Abu Hurairah ada dibelakangnya. KetikaAbu Hurairah sampai dipintu mesjid, tiba-tiba datang seorang wanita. Seraya ia berkata, yaa Abu Hurairah ! saya ini orang laknat. Abu Hurairah itu terkejut mendengar pengakuan wanita itu dan berkata kepadanya apa yang terjadi denganmu? Saya berzinah dengan seorang laki-laki hingga melahirkan seorang anak, karena malu, lalu saya bunuh anak itu. Saya pezina dan saya pembunuh; Adakah pintu taubat bagi saya? tutur wanita itu dengan nada sendu. Abu Hurairah menjawab, wahai wanita laknat sungguh engkau merugi, kamu sudah dilaknat Allah, lalu Abu Hurairah masuk ke dalam mesjid dan wanita itu merasakan kesedihan yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di dalam Mesjid Abu Hurairah merasa ragu terhadap jawaban yang telah diberikan kepada wanita tadi. Dan akhirnya mengadukan peristiwa itu kepada Rasulullah; Yaa Rasulullah, tadi dipintu masjid ada wanita yang bertanya, ia berzina, dari hasil zinanya ia melahirkan seorang anak kemudian anaknya dibunuhnya, masihkah ada pintu taubat untuknya. Laiu dijawab oleh Rasullah dengan surat AI-Furqon : 70-71).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kecuali barang siapa yang bertaubat dan beriman serta mengerjakan amal kebaikan, kejahatannya akan diganti oleh Allah dengan kebajikan, Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang. Barang siapa yang bertaubat dan melakukan amal kebaikan, sesungguhnya ia bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jawaban Rasulullah seperti itu, Abu Hurairah langsung keluar masjid dengan maksud mencari perempuan tadi. Dan didapatinya ia sedang menangis tersedu-sedu. Abu Hurairah menghampirinya dan berkata, wahai wanita yang malang ada berita gembira untukmu. Wanita itu terkejut, setelah diketahuinya bahwa yang datang itu adalah Abu Hurairah, langsung ia mendesak dengan ketidaksabaran. Berita apa yang engkau bawa wahai Abu Hurairah? Peristiwa yang engkau alami telah aku adukan kepada Rasulullah, pintu taubat masih terbuka untukmu dan taubatan maupun diterima Allah asal diiringi dengan kebaikan. Wanita itu akhirnya girang sekali dan berkata kepada Abu Hurairah, yaa Abu Hurairah, ambilah tanah saya di Bairuha sebagai tanda syukur saya kepada Allah bahwa taubat saya masih diterima. Dan tolong sampaikan salam kepada Rasulullah bahwa saya telah menyesali segala perbuatan yang telah dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas, sebesar apapun dosa diperbuat manusia baik itu berzina, membunuh dan sebagainya asal akhir hidupnya bertaubat kepada Allah pasti diampuni-Nya. Namun masalahnya taubat ini jangan ditangguhkan, hal inipun ditegaskan Allah dalam al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berlombalah dalam mendapatkan ampunan dari tuhanmu dan surga yang seluas langit dan bumi disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhan.” (Q.S. All Imran : 133). Dengan demikian tidak ada satu alasanpun untuk menunda-nuda taubat apalagi ditangguhkan sampai tua . Alasannya sangat sederhana sekali, yaitu karena kita tidak tahu kapan mati. Dan sebagai gambaran mengenai pencatatan dosa seseorang yang maksiat seperti telah dijelaskan dalam sebuah hadits Nabi : “Kalau ada orang yang berbuat dosa, malaikat pencatat dosa, belum mencatat perbuatan orang itu dalam tempo tiga jam. Dalam tempo tiga jam itu ia tidak meminta ampun, maka malaikat baru mencatat dosanya. Setelah dicatatpun kalau orang itu bertaubat, maka Allah mengampuninya. Dan andaikata dalam tiga jam setelah berbuat dosa dia meminta ampun, maka dosanya tidak jadi ditulis oleh Malaikat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadits tersebut di atas, tersirat bahwa masalah taubat itu mudah sekali. Sesungguhnya tidak demikian, sekali-kali tidak demikian halnya. Sebab masalah taubat ini terletak pada hati sanubari. Dan tidak tersirat di dalam hatinya untuk mempermainkan Allah. Seperti juga pernah diceritakan dalam sabda Rasulullah : “Pada zaman dahulu ada seseorang yang telah membunuh 99 orang, kemudian ia mencari-cari orang yang paling ‘alim di negeri itu, maka ia ditunjukan kepada seorang pendeta, iapun lantas datang kepadanya dan menceritakan bahwasanya ia telah membunuh 99 orang, maka apakah masih diterima taubatnya, kemudian si pendeta itu mengatakan bahwa taubatnya tidak akan diterima. Lantas orang itu membunuh pendeta tadi, maka genaplah seratus orang. Dia mencari-cari lagi orang yang paling alim di negeri itu maka ia ditunjukkan kepada seseorang yang sangat alim. Kemudian ia menceritakan bahwa ia telah membunuh seratus orang, maka apakah masih diterima taubatnya, orang alim itu menjawab ya masih terima, siapakah yang akan menghalangimu untuk bertaubat? Dan pergilah ke arah sana, karena penduduk di daerah sana menyembah Allah SWT, maka sembahlah Allah bersama-sama dengan mereka. .Dan janganlah engakau kembali ke kampung halamanmu, karena kampungmu adalah daerah penuh kemaksiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya orang itu pergi setelah menempuh kira-kira setengah perjalanan, maka iapun mati. Bertengkar malaikat rahmat dan malaikat siksa. Malaikat rahmat berkata : “ia benar-benar telah berangkat untuk bertaubat dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Malaikat siksa berkata sesungguhnya ia belum berbuat kebaikan sedikitpun. Lantas datanglah seorang Malaikat yang berbentuk manusia, maka kedua malaikat itu menjadikannya sebagai hakim. Berkatalah malaikat berbentuk manusia itu. “Ukurlah olehmu dua daerah itu, maka kepada daerah yang lebih dekat itulah ketentuan nasibnya. Mereka mengukurnya kemudian di dapatkannya daerah yang dituju itulah yang lebih dekat, maka jenazah tersebut milik malaikat rahmat. Di dalam riwayat lain disebutkan ia lebih dekat sejengkal saja dari daerah yang baik itu, dari uraian diatas kita dapat menegaskan kembali bahwa masalah taubat ini adalah masalah hati nurani timbul dari hati sanubari yang dalam. Kita sebagai hamba Allah di mana kita akan kembali kepada-Nya, sebesar apapun dosa yang kita perbuat asalkan kita bertaubat kepada-Nya dengan taubat yang sebenar-benarnya pasti Allah akan mengampuninya. Dan mudah-mudahan kita termasuk orang yang diterima taubatnya. Amiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;br /&gt;Mau’izah Hasanah No. 505 th. 2008 14 Maret 2008, dalam :&lt;br /&gt;http://mimbarjumat.com/archives/41&lt;br /&gt;26 Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4347253951497962972-3983592403080177393?l=aa-taubat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aa-taubat.blogspot.com/feeds/3983592403080177393/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/hakekat-taubat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/3983592403080177393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/3983592403080177393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/hakekat-taubat.html' title='Hakekat Taubat'/><author><name>Akang Ganteng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14636739127904972103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4347253951497962972.post-4649597984867868298</id><published>2009-08-25T18:01:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T18:03:55.023-07:00</updated><title type='text'>Nikmat Taubat</title><content type='html'>Saudaraku yang tercinta,&lt;br /&gt;Sejak diciptakan oleh Allah, manusia selalu berada di atas sebuah titian perjalanan.&lt;br /&gt;Dunia bukanlah negeri untuk ditinggali selamanya. Akan tetapi ia adalah tempat persinggahan dan sekedar untuk lewat saja …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ini tidak akan pernah berakhir kecuali setelah kita menghadap Allah. Barangsiapa yang berlaku baik di dalam perjalanannya niscaya akan diberi balasan dengan kenikmatan abadi di surga… Dan barangsiapa yang berlaku jelek di dalam perjalanannya niscaya akan dibalas dengan siksa yang pedih di dalam Jahannam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, orang yang berbahagia adalah yang selalu bersiap-siap untuk menempuh perjalanan ini dan membekali dirinya untuk itu. Dia pun mempersiapkan bekal ketakwaan dan amal shalihnya. Sedangkan orang yang celaka ialah orang-orang yang menyia-nyiakan umurnya di dalam kelalaian dan kemaksiatan. Sehingga kedatangannya tatkala menghadap Tuhannya ia divonis sebagaimana para pendurhaka, pelaku dosa dan kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di dalam perjalanannya menuju Allah seorang hamba pastilah akan mengalami sesuatu yang tidak terpuji, baik berupa ucapan maupun perbuatan; sebab manusia bukanlah makhluk yang ma’shum (terjaga dari salah dan dosa). Dia tidak pernah lepas dari sifat lupa dan lalai. Dan karena kemaksiatan-kemaksiatan merupakan sebab timbulnya murka Allah terhadap hamba dan pemicu ditimpakannya hukuman atasnya maka Allah ‘azza wa jalla tidaklah menelantarkan hamba-hamba-Nya menjadi tawanan maksiat. Allah tidak membiarkan mereka terjebak dalam kebingungan dan kekalutan. Akan tetapi Allah melimpahkan nikmat yang sangat agung kepada mereka. Allah karuniakan kepada mereka sebuah anugerah yang sangat besar. Yaitu dengan dibukakan-Nya pintu taubat dan inabah bagi mereka. Kalau seandainya Allah tidak memberikan taufik kepada hamba-hamba-Nya untuk bertaubat dan tidak memberikan nikmat diterimanya taubat itu pastilah hamba akan terjebak dalam sebuah kondisi sempit yang amat menyusahkan. Sehingga merekapun diliputi rasa putus asa dari mendapatkan ampunan. Dan harapan mereka untuk bisa mencari kedekatan dengan Tuhannya pun menipis dan terputuslah keinginan mereka untuk bisa meraih ampunan, kelapangan dan kelonggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Maha pengampun, Maha penerima taubat dan Maha penyayang&lt;br /&gt;Allah menyifati diri-Nya di dalam Al Qur’an bahwa Dia Maha pengampun lagi Maha penyayang hampir mendekati 100 kali. Allah berjanji mengaruniakan nikmat taubat kepada hamba-hamba-Nya di dalam sekian banyak ayat yang mulia. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian, sedangkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya ingin agar kalian menyimpang dengan sejauh-jauhnya” (QS. An Nisaa’ [4] : 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Dan seandainya bukan karena keutamaan dari Allah kepada kalian dan kasih sayang-Nya (niscaya kalian akan binasa). Dan sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha bijaksana” (QS. An Nuur [24] : 10). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Tuhanmu sangat luas ampunannya” (QS. An Najm [53] : 32). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Rahmat-Ku amat luas meliputi segala sesuatu” (QS. Al A’raaf [7] : 156)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, saudaraku yang tercinta&lt;br /&gt;Pintu taubat ada di hadapanmu terbuka lebar, ia menanti kedatanganmu…&lt;br /&gt;Jalan kaum yang bertaubat telah dihamparkan, …&lt;br /&gt;Ia merindukan pijakan kakimu…&lt;br /&gt;Maka ketuklah pintunya dan tempuhlah jalannya. Mintalah taufik dan pertolongan kepada Tuhanmu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersungguh-sungguhlah dalam menaklukkan hawa nafsumu, paksalah ia untuk tunduk dan taat kepada Tuhannya. Dan apabila engkau telah benar-benar bertaubat kepada Tuhanmu kemudian sesudah itu engkau terjatuh lagi di dalam maksiat -sehingga memupus taubatmu yang terdahulu- janganlah malu untuk memperbaharui taubatmu untuk kesekian kalinya. Selama maksiat itu masih berulang padamu maka teruslah bertaubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Karena sesungguhnya Dia Maha mengampuni kesalahan hamba-hamba yang benar-benar bertaubat kepada-Nya” (QS. Al Israa’ [17] : 25). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dialah Dzat Yang Maha pengampun lagi Maha penyayang. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datangnya azab kemudian kalian tidak dapat lagi mendapatkan pertolongan” (QS. Az Zumar [39] : 53-54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian berbuat dosa sehingga tumpukan dosa itu setinggi langit kemudian kalian benar-benar bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubat kalian” (Shahih Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dimanakah orang-orang yang bertaubat dan menyesali dosanya?&lt;br /&gt;Dimanakah orang-orang yang kembali taat dan merasa takut siksa?&lt;br /&gt;Dimanakah orang-orang yang ruku’ dan sujud?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban bertaubat&lt;br /&gt;Hakikat taubat adalah meninggalkan segala yang dibenci Allah lahir maupun batin menuju segala hal yang dicintai-Nya lahir maupun batin. Asal makna taubat adalah kembali. Barangsiapa yang kembali insaf setelah terjerumus dalam berbagai penyimpangan karena merasa malu kepada Allah dan takut terhadap azab-Nya maka dialah orang yang disebut sebagai taa’ib (pelaku taubat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum taubat fardhu ‘ain atas setiap muslim berdasarkan Al Kitab, As Sunnah dan Ijma’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalil dari Al Kitab, ini didasarkan oleh firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan bertaubatlah kepada Allah wahai semua orang beriman, supaya kalian mendapatkan keberuntungan” (QS. An Nuur [24] : 31) Begitu pula firman Allah ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya” (QS. At Tahriim [66] : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kedua ayat ini terdapat perintah yang sangat tegas untuk bertaubat kepada semua kaum beriman. Hal ini menunjukkan wajibnya melakukan taubat. Dan ia juga sekaligus menunjukkan bahwa taubat itu tidak khusus berlaku bagi para pelaku maksiat dan kesalahan saja; karena Allah ta’ala memerintahkannya kepada seluruh kaum beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil lain yang juga menunjukkan atas kewajiban bertaubat ialah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan barangsiapa yang tidak bertaubat maka mereka itulah orang-orang yang berbuat zalim” (QS. Al Hujuraat [49] : 11). Di dalam ayat ini Allah membagi hamba-hamba-Nya ke dalam dua kelompok : yang bertaubat dan yang zalim. Dan karena kezaliman itu diharamkan maka sebaliknya bartaubatpun menjadi sebuah kewajiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalil dari As Sunnah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk bertaubat. Beliau bersabda, “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah. Karena sesungguhnya aku sendiri bertaubat kepada Allah dalam sehari 100 kali” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalil ijma’ ialah sebagaimana telah diutarakan oleh Ibnu Qudamah, “Telah terjadi ijma’ atas wajibnya bertaubat” (Mukhtashar Minhaajul Qaashidiin). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Setiap hamba harus bertaubat, Taubat itu merupakan kewajiban orang yang hidup terdahulu maupun belakangan” (Majmuu’ul Fataawa). Al Qurthubi mengatakan, “Dan tidak ada perselisihan diantara umat ini tentang wajibnya bertaubat, dan bahwasanya ia termasuk kewajiban setiap individu” (Al Jaami’ li Ahkaamil Qur’an)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yang tercinta,&lt;br /&gt;Salah satu bukti kasih sayang Allah ta’ala kepadamu yaitu Dia menjadikan taubat itu sebagai sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan, … agar Dia memaafkan kamu dan supaya dosa-dosamu diampuni-Nya, dan Allah pun akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu. Allah ‘azza wa jalla tidak sedikitpun membutuhkan apa-apa dari kita, baik yang berupa ketaatan maupun amal-amal kita. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah ta’ala (yang artinya), “Tidaklah akan sampai kepada Allah daging-daging sembelihan itu, tidak juga darah-darahnya akan tetapi yang dinilai oleh Allah adalah ketakwaan kalian” (QS. Al Hajj [22] : 37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bersegeralah wahai saudaraku, bertaubatlah dengan sungguh-sungguh. Perbaharuilah taubat setiap hari dan setiap waktu. Karena sesungguhnya seseorang yang bertaubat dari dosa-dosanya dan benar-benar menyesalinya tidaklah terhitung sebagai orang yang terus menerus berkubang dalam dosa, meskipun dalam sehari dia telah melakukannya lebih dari 70 kali!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertaubatlah sekarang juga&lt;br /&gt;Saudaraku yang tercinta, taubat itu wajib dilakukan dengan segera. Artinya tidak boleh mengakhirkan dan menunda-nundanya. Karena hal itu tergolong dosa baru yang membutuhkan taubat lagi. Tidakkah orang yang menunda-nunda taubat ini menyadari ketika dia berkata, “Besok saya akan bertaubat” bahwa besok belum tentu dia masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan lebih dari itu, dia pun tidak tahu apakah saat itu dia masih sanggup bisa berdiri dari tempatnya. Karena kematian terkadang datang secara tiba-tiba, tanpa ada sebab-sebab maupun tanda-tanda yang tampak. Betapa banyak kita lihat orang-orang yang mengalami kematian secara tiba-tiba akibat terkena serangan jantung secara mendadak, kecelakaan yang tiba-tiba atau karena sebab-sebab lain yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidak ada satu jiwapun yang mengetahui secara pasti apa yang akan dilakukannya besok hari, dan tidak ada satu jiwapun yang mengetahui di bumi manakah dia akan mati” (QS. Luqman [31] : 34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah memerintahkan agar kita bersegera dalam meraih sebab-sebab yang bisa mendatangkan ampunan, sedangkan taubat termasuk diantaranya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan bersegeralah kalian untuk menggapai ampunan dari Tuhan kalian serta surga yang lebarnya selebar langit dan bumi” (QS. Ali ‘Imran [3] : 133). Allah berfirman (yang artinya), “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan” (QS. Al Baqarah [2] : 148). Allah ‘azza wa jalla juga berfirman, “Dan orang-orang yang apabila melakukan kekejian atau kezaliman terhadap diri sendiri mereka lantas mengingat Allah dan memohon ampunan atas dosa-dosa mereka. Dan siapakah yang bisa memberikan ampunan terhadap dosa selain Allah. Dan mereka juga tidak terus menerus berkubang dalam kesalahan sedang mereka mengetahuinya” (QS. Ali Imran [3] : 135).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah orang yang terus menerus dalam dosa yang dilakukannya sementara dia menyadarinya” (HR. Ahmad dan dinilai shahih Al Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, wahai saudaraku yang tercinta!&lt;br /&gt;Bertaubatlah sekarang juga, sebelum kezaliman itu semakin bertumpuk-tumpuk menjejali hatimu sehingga engkaupun menjadi tidak sanggup lagi membendung derasnya perbuatan maksiat.&lt;br /&gt;Bertaubatlah sekarang, sebelum sakit atau kematian menimpamu sehingga tidak bisa lagi kau dapatkan kesempatan emas untuk bertaubat.&lt;br /&gt;Bertaubatlah sekarang, sebelum malaikat maut datang kepadamu lantas kaupun menyesalinya, “Wahai Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia” maka Allah pun menjawab, “Sekali-kali tidak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari buku mungil berjudul ‘Ayyuhalmuqashshir mata tatubu?’ (15 Desember 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;br /&gt;http://abu0mushlih.wordpress.com/2008/12/15/nikmat-taubat/&lt;br /&gt;26 Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4347253951497962972-4649597984867868298?l=aa-taubat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aa-taubat.blogspot.com/feeds/4649597984867868298/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/nikmat-taubat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/4649597984867868298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/4649597984867868298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/nikmat-taubat.html' title='Nikmat Taubat'/><author><name>Akang Ganteng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14636739127904972103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4347253951497962972.post-6818236461635279744</id><published>2009-08-25T17:58:00.001-07:00</published><updated>2009-08-25T17:59:24.319-07:00</updated><title type='text'>Bulan Ramadhan menjadi momentum tepat melakukan pertaubatan besar</title><content type='html'>Taubat berarti kembali dari kemaksiatan kepada ketaatan. Dalam arti yang lebih luas, taubat adalah membersihkan hati dari segala dosa, atau meninggalkan keinginan untuk kembali melakukan kemunkaran karena membesarkan Allah SWT dan menjauhkan diri dari kemurkaan-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, taubat bukan sekadar penghapus dosa, namun juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena itu, sekalipun tidak berdosa, umat tetap diperintahkan bertaubat, sehingga menjadi wajib hukumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Rasulullah SAW tak melalaikan untuk bertaubat. Rasulullah senantiasa bertaubat tidak kurang dari 70 kali sehari semalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang Nabi SAW yang telah terpelihara dari dosa pun selalu bertaubat, maka umat hendaknya jangan meninggalkan taubat. Terlebih seperti disabdakan Nabi, bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka itu, kita jangan menunda-nunda taubat. Karena kita tidak tahu kapan kita mennggal dunia," kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Kholil Ridwan, beberapa waktu lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang telah bertaubat, maka dosa-dosanya akan dihapus oleh Allah SWT. Selain itu, jika dia meninggal dunia saat bertaubat, dia akan husnul khatimah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan Pesantren Husnayaian Jakarta itu mengatakan, bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa hambanya walaupun seluas langit dan bumi, kecuali syirik atau menyekutukan Allah. Akan tetapi, agar dosanya diampuni, taubat harus dilakukan dengan serius dan tidak main-main. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan kita mesti bertaubat? Memang yang terbaik adalah persis ketika kita melakukan kesalahan dan perbuatan dosa. "Jadi, segeralah bertaubat," tegas DR Shobahussurur, Ketua Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini diamini oleh dai yang juga penulis produktif, Ustadz Zainal Abidin Syamsuddin Lc. Menurutnya, sangat penting bagi seorang Muslim untuk menyegerakan serta memperbanyak taubat. Sebab, dengan masih melekatnya dosa akibat kesalahan yang diperbuat, akan menghalangi rezeki halal dan thayib dari seseorang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan Ramadhan&lt;br /&gt;Zainal lantas menjelaskan empat sumber dosa. Pertama, menyematkan sifat-sifat ketuhanan dalam dirinya, yakni sombong, angkuh dan ingin dipuji. Kedua, menyematkan sifat-sifat setan dalam dirinya, seperti hasud, membuat makar (rencana jahat) dan munafik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, menyematkan sifat-sifat hewan dalam dirinya, seperti rakus, zina, makan harta orang lain (anak yatim) dan sebagainya. Dan keempat, menyematkan watak binatang buas dalam dirinya, seperti marah, dendam, saling berkelahi, saling benci dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, dengan kehadiran bulan suci Ramadhan, menjadi momen tepat untuk memperbanyak taubat. Pada bulan penuh berkah ini, merupakan kafarat terhadap dosa-dosa sampai Ramadhan berikutnya sepanjang dosa-dosa yang terjadi antara waktu shalat fardhu dan dari Jumat ke Jumat berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mari kita perbanyak taubat kepada Allah SWT dan meningkatkan kualitas diri di bulan Ramadhan ini," ajak Rektor UIA Jakarta dan Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), DR Hj Tutty Alawiyah AS.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskan mantan Menteri Negara Peranan Wanita ini, bahwa selain bulan rahmat, bulan maghfirah dan bulan itkum minannar, Ramadhan juga merupakan itkum minannar yaitu memerdekakan diri dari api neraka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Shobahusurrur mengistilahkan Ramadhan sebagai saat yang tepat melakukan pertaubatan besar. Pertaubatan secara menyeluruh ini perlu karena selama sebelas bulan sebelumnya mungkin telah berbuat dosa dan khilaf, baik sengaja maupun tidak disengaja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiai Kholil juga sependapat bahwa bertaubat di bulan Ramadhan, lebih diutamakan. Meski demikian, jika seseorang ingin bertaubat tapi jauh dengan bulan Ramadhan, maka segeralah bertaubat di saat itu juga. "Kapan saja taubat harus dilakukan," ujarnya. dam/ika/c81&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan Taubat :&lt;br /&gt;1. Pengakuan bahwa dirinya bersalah. &lt;br /&gt;2. Tekad yang kuat untuk benar-benar bertaubat. &lt;br /&gt;3. Usaha sekuat mungkin untuk meninggalkan perbuatan tercela yang telah dilakukan. &lt;br /&gt;4. Didukung dengan ibadah maali atau ibadah harta, seperti bersedekah. &lt;br /&gt;(21 Agustus 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;http://www.republika.co.id/koran/0/70674/Saatnya_Perbanyak_Taubat&lt;br /&gt;26 Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4347253951497962972-6818236461635279744?l=aa-taubat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aa-taubat.blogspot.com/feeds/6818236461635279744/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/bulan-ramadhan-menjadi-momentum-tepat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/6818236461635279744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/6818236461635279744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/bulan-ramadhan-menjadi-momentum-tepat.html' title='Bulan Ramadhan menjadi momentum tepat melakukan pertaubatan besar'/><author><name>Akang Ganteng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14636739127904972103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4347253951497962972.post-278692583994086622</id><published>2009-08-25T17:54:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T17:56:09.987-07:00</updated><title type='text'>Taubat Sejati</title><content type='html'>Hidup tak ubahnya seperti menelusuri jalan setapak yang becek di tepian sungai nan jernih. Kadang orang tak sadar kalau lumpur yang melekat di kaki, tangan, badan, dan mungkin kepala bisa dibersihkan dengan air sungai tersebut. Boleh jadi, kesadaran itu sengaja ditunda hingga tujuan tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada manusia yang bersih dari salah dan dosa. Selalu saja ada debu-debu lalai yang melekat. Sedemikian lembutnya, terlekatnya debu kerap berlarut-larut tanpa terasa. Di luar dugaan, debu sudah berubah menjadi kotoran pekat yang menutup hampir seluruh tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah keadaan yang kerap melekat pada diri manusia. Diamnya seorang manusia saja bisa memunculkan salah dan dosa. Terlebih ketika peran sudah merambah banyak sisi: keluarga, masyarakat, tempat kerja, organisasi, dan pergaulan sesama teman. Setidaknya, akan ada gesekan atau kekeliruan yang mungkin teranggap kecil, tapi berdampak besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi ketika kekeliruan tidak lagi bersinggungan secara horisontal atau sesama manusia. Melainkan sudah mulai menyentuh pada kebijakan dan keadilan Allah swt. Kekeliruan jenis ini mungkin saja tercetus tanpa sadar, terkesan ringan tanpa dosa; padahal punya delik besar di sisi Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. pernah menyampaikan nasihat tersebut melalui Abu Hurairah r.a. “Segeralah melalukan amal saleh. Akan terjadi fitnah besar bagaikan gelap malam yang sangat gulita. Ketika itu, seorang beriman di pagi hari, tiba-tiba kafir di sore hari. Beriman di sore hari, tiba-tiba kafir di pagi hari. Mereka menukar agama karena sedikit keuntungan dunia.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnyalah seseorang merenungi diri untuk senantiasa minta ampunan Allah swt. Menyadari bahwa siapa pun yang bernama manusia punya kelemahan, kekhilafan. Dan istighfar atau permohonan ampunan bukan sesuatu yang musiman dan jarang-jarang. Harus terbangun taubat yang sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara bahasa, taubat berarti kembali. Kembali kepada kebenaran yang dilegalkan Allah swt. dan diajarkan Rasulullah saw. Taubat merupakan upaya seorang hamba menyesali dan meninggalkan perbuatan dosa yang pernah dilakukan selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. pernah ditanya seorang sahabat, “Apakah penyesalan itu taubat?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya.” (HR. Ibnu Majah) Amr bin Ala pernah mengatakan, “Taubat nasuha adalah apabila kamu membenci perbuatan dosa sebagaimana kamu mencintainya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taubat dari segala kesalahan tidak membuat seorang manusia terhina di hadapan Tuhannya. Justru, akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya. Karena Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taubat dalam Islam tidak mengenal perantara. Pintu taubat selalu terbuka luas tanpa penghalang dan batas. Allah selalu menbentangkan tangan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya. Seperti terungkap dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu musa Al-Asy`ari. “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat.”&lt;br /&gt;Karena itu, merugilah orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan membiarkan dirinya terus-menerus melampaui batas. Padahal, pintu taubat selalu terbuka. Dan sungguh, Allah akan mengampuni dosa-dosa semuanya karena Dialah yang Maha Pengampun lagi Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mengulur-ulur saatnya bertaubat tergolong sebagai Al-Musawwif. Orang model ini selalu mengatakan, “Besok saya akan taubat.” Ibnu Abas r.a. meriwayatkan, berkata Nabi saw. “Binasalah orang-orang yang melambat-lambatkan taubat (musawwifuun).” Dalam surat Al-Hujurat ayat 21, Allah swt. berfirman, “Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, mereka itulah orang-orang yang zalim.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakar pernah mendengar ucapan Rasulullah saw., “Iblis berkata, aku hancurkan manusia dengan dosa-dosa dan dengan bermacam-macam perbuatan durhaka. Sementara mereka menghancurkan aku dengan Laa ilaaha illaahu dan istighfar. Tatkala aku mengetahui yang demikian itu aku hancurkan mereka dengan hawa nafsu, dan mereka mengira dirinya berpetunjuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, taubat seorang hamba Allah tidak cuma sekadar taubat. Bukan taubat kambuhan yang sangat bergantung pada cuaca hidup. Pagi taubat, sore maksiat. Sore taubat, pagi maksiat. Sedikit rezeki langsung taubat. Banyak rezeki kembali maksiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taubat yang selayaknya dilakukan seorang hamba Allah yang ikhlas adalah dengan taubat yang tidak setengah-setengah. Benar-benar sebagai taubat nasuha, atau taubat yang sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, ada syarat buat taubat nasuha. Antara lain, segera meninggalkan dosa dan maksiat, menyesali dengan penuh kesadaran segala dosa dan maksiat yang telah dilakukan, bertekad untuk tidak akan mengulangi dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, para ulama menambahkan syarat lain. Selain bersih dari kebiasaan dosa, orang yang bertaubat mesti mengembalikan hak-hak orang yang pernah dizalimi. Ia juga bersegera menunaikan semua kewajiban-kewajibannya terhadap Allah swt. Bahkan, membersihkan segala lemak dan daging yang tumbuh di dalam dirinya dari barang yang haram dengan senantiasa melakukan ibadah dan mujahadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Alahlah yang tahu, apakah benar seseorang telah taubat dengan sungguh-sungguh. Manusia hanya bisa melihat dan merasakan dampak dari orang-orang yang taubat. Benarkah ia sudah meminta maaf, mengembalikan hak-hak orang yang pernah terzalimi, membangun kehidupan baru yang Islami, dan hal-hal baik lain. Atau, taubat hanya hiasan bibir yang terucap tanpa beban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup memang seperti menelusuri jalan setapak yang berlumpur dan licin. Segeralah mencuci kaki ketika kotoran mulai melekat. Agar risiko jatuh berpeluang kecil. Dan berhati-hatilah, karena tak selamanya jalan mendatar. (4 Oktober 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;Muhammad Nuh&lt;br /&gt;http://www.dakwatuna.com/2007/taubat-sejati/&lt;br /&gt;26 Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4347253951497962972-278692583994086622?l=aa-taubat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aa-taubat.blogspot.com/feeds/278692583994086622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/taubat-sejati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/278692583994086622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/278692583994086622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/taubat-sejati.html' title='Taubat Sejati'/><author><name>Akang Ganteng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14636739127904972103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4347253951497962972.post-867460840512029367</id><published>2009-08-25T17:50:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T17:53:11.545-07:00</updated><title type='text'>Keutamaan Taubat dan Orang-orang yang Bertaubat dalam al Qur'an</title><content type='html'>Tentang dorongan dan anjuran untuk bertobat, Al Qur'an berbicara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS. Al Baqarah: 222).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka derajat apa yang lebih tinggi dari pada mendapatkan kasih sayang Rabb semesta alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menceritakan tentang ibadurrahman yang Allah SWT berikan kemuliaan dengan menisbahkan mereka kepada-Nya, serta menjanjikan bagi mereka surga, di dalamnya mereka mendapatkan ucapan selamat dan mereka kekal di sana, serta mendapatkan tempat yang baik. Firman Allah SWT:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan)dosa(nya)." (QS. Al Furqaan: 68-70.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan apalagi yang lebih besar dari pada orang yang bertaubat itu mendapatkan ampunan dari Allah SWT , hingga keburukan mereka digantikan dengan kebaikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam penjelasan tentang keluasan ampunan Allah SWT dan rahmat-Nya bagi orang-orang yang bertaubat. Allah SWT berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah: "Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini membukakan pintu dengan seluas-luasnya bagi seluruh orang yang berdosa dan melakuan kesalahan. Meskipun dosa mereka telah mencapai ujung langit sekalipun. Seperti sabda Rasulullah Saw:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika kalian melakukan kesalahan-kesalahan (dosa) hingga kesalahan kalian itu sampai ke langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan memberikan taubat kepada kalian." (Hadist diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Hurairah, dan ia menghukumkannya sebagai hadits hasan dalam kitab sahih Jami' Shagir - 5235)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara keutamaan orang-orang yang bertaubat adalah: Allah SWT menugaskan para malaikat muqarrabin untuk beristighfar bagi mereka serta berdo'a kepada Allah SWT agar Allah SWT menyelamatkan mereka dari azab neraka. Serta memasukkan mereka ke dalam surga. Dan menyelamatkan mereka dari keburukan. Mereka memikirkan urusan mereka di dunia, sedangkan para malaikat sibuk dengan mereka di langit. Allah SWT berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"(Malaikat-malaikat) yang memikul 'arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala, ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka kedalam surga 'Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak -bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari(pembalasan?)kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar." (QS.Ghaafir: 7-9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat banyak ayat dalam Al Qur'an yang mengabarkan akan diterimanya taubat orang-orang yang melakukan taubat jika taubat mereka tulus, dengan banyak redaksi. Dengan berdalil pada kemurahan karunia Allah SWT, ampunan dan rahmat-Nya, yang tidak merasa sempit dengan perbuatan orang yang melakukan maksiat, meskipun kemaksiatan mereka telah demikian besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dalam firman Allah SWT:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hambaNya dan menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang? ." (QS. At-Taubah: 104)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Dialah Yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan." (QS. Asy-Syuuraa: 25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam menyipati Dzat Allah SWT: "Yang mengampuni dosa dan menerima taubat." (QS. Ghaafir: 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terutama orang yang bertaubat dan melakukan perbaikan. Atau dengan kata lain, orang yang bertaubat dan melakukan amal yang saleh. Seperti dalam firman Allah SWT dalam masalah pria dan wanita yang mencuri:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka barangsiapa yang bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu, dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Maaidah: 39)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuhanmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya, dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al An'aam: 54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat setelah itu, dan memperbaiki ( dirinya) sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nahl: 119)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puja-puji terhadap Allah SWT dengan nama-Nya "at-Tawwab" (Maha Penerima Taubat) terdapat dalam al Quran sebanyak sebelas tempat. Seperti dalam do'a Ibrahim dan Isma'il a.s.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al Baqarah: 128).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga seperti dalan sabda Nabi Musa kepada Bani Israil setelah mereka menyembah anak sapi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka bertaubatlah kepada Tuhan Yang menjadikan kamu, dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu, pada sisi Tuhan Yang menjadikan kamu, maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah yang Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang ." (QS. Al Baqarah: 54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman kepada Rasul-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohon ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa: 64)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;Judul Asli: at Taubat Ila Allah&lt;br /&gt;Pengarang: Dr. Yusuf al Qardhawi&lt;br /&gt;Penerjemah: Abdul Hayyie al Kattani&lt;br /&gt;Penerbit: Maktabah Wahbah, Kairo&lt;br /&gt;Cetakan: I/1998&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Taubat/Utama.html&lt;br /&gt;26 Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4347253951497962972-867460840512029367?l=aa-taubat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aa-taubat.blogspot.com/feeds/867460840512029367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/keutamaan-taubat-dan-orang-orang-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/867460840512029367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/867460840512029367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/keutamaan-taubat-dan-orang-orang-yang.html' title='Keutamaan Taubat dan Orang-orang yang Bertaubat dalam al Qur&apos;an'/><author><name>Akang Ganteng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14636739127904972103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4347253951497962972.post-819262007635746148</id><published>2009-08-25T17:45:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T17:49:46.917-07:00</updated><title type='text'>Kisah Orang-orang Taubat</title><content type='html'>Manusia memang dicipta Allah dengan berbagai macam karakteristik yang menambah keindahan dunia ini. Allah juga seringkali memberikan hidayah kepada kita melalui berbagai cara, ada kalanya dengan dinasehati seseorang menjadi tersadar, adakalanya ketika terpojok pada situasi yang tidak menguntungkan seseorang menjadi ingat Tuhannya dan lain-lain. Berikut ini kami nukilkan beberapa kisah orang-orang yang bertaubat, siapa tahu Allah menurunkan hidayah pertolongan kepada kita untuk keluar dari kemaksiatan ketika membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indeks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Awan yang Mengikuti Orang Bertaubat&lt;br /&gt;2. Pendeta yang Insaf&lt;br /&gt;3. Taubat Nabi Adam a.s.&lt;br /&gt;4. Allah Maha Pengampun&lt;br /&gt;5. Iblis Ingin Bertaubat&lt;br /&gt;6. Malaikat Rahmat dan Malaikat Adzab&lt;br /&gt;7. Taubatnya Malik bin Dinar&lt;br /&gt;8. Taubat Tukang Fitnah&lt;br /&gt;9. Paku di Tiang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Awan yang Mengikuti Orang Bertaubat&lt;br /&gt;Diriwayatkan bahwa seorang tukang jagal (penyembelih binatang) terpesona kepada budak tetangganya. Suatu saat gadis itu mendapat tugas menyelesaikan urusan keluarganya di desa lain. Si tukang jagal lalu mengikutinya dari belakang sampai akhirnya berhasil mendapatkannya. Si tukang jagal lalu memanggil gadis itu dan mengajaknya menikmati kesempatan langka dan indah itu. Tetapi gadis itu menjawab, "Jangan lakukan. Meskipun aku sangat mencintaimu, tetapi aku sangat takut kepada Allah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jawaban itu, si tukang jagal merasa dunia berputar. Karena menyesal dan sadar, hatinya gemetar, tenggorokannya kering dan hatinya semakin berdebar, dia lalu berkata, "Kau takut kepada Allah sedangkan aku tidak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pulang sambil bertaubat. Ketika berada di jalan ia diserang rasa haus dan nyaris mati. Ia kemudian bertemu dengan seorang yang sholeh dan mereka berjalan bersama. Mereka melihat gumpalan awan berjalan menaungi mereka berdua, sampai mereka masuk ke sebuah desa. Mereka berdua yakin bahwa awan itu untuk orang yang sholeh. Kemudian mereka berpisah di desa tersebut. Awan itu ternyata condong dan terus menaungi si tukang jagal sampai dia tiba di rumahnya. Orang sholeh tadi heran melihat kenyataan ini. Dia lalu mengikuti tukang jagal tadi lantas bertanya kepadanya dan dijawabnya pula di tempat itu. Maka laki-laki sholeh itu berkata, "Janganlah heran terhadap apa yang kau lihat, karena orang yang bertaubat kepada Allah itu berada di suatu tempat yang tak seorang pun berada di situ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pendeta yang Insaf&lt;br /&gt;Ibrahim Al Khawas ialah seorang wali Allah yang terkenal keramat dan dimakbulkan segala doanya oleh Allah. Beliau pernah menceritakan suatu peristiwa yang pernah dialaminya. Katanya, "Menurut kebiasaanku, aku keluar menziarahi Makkah tanpa kendaraan dan kafilah. Pada suatu waktu, tiba-tiba aku tersesat dan kemudian aku bertemu dengan seorang rahib Nasrani (Pendeta Kristian) ". Ketika dia melihatku dia pun berkata, "Wahai rahib Muslim, bolehkah aku bersahabat denganmu?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim segera menjawab, "Ya, tidaklah aku akan menghalangi kehendakmu itu". Maka berjalanlah Ibrahim bersama dengannya selama tiga hari tanpa meminta makanan sehingga rahib itu menyatakan rasa laparnya kepadaku, katanya, "Tidaklah aku ingin memberitahukan padamu bahwa aku telah menderita kelaparan. Karena itu berilah aku sesuatu makanan yang ada padamu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar permintaan rahib itu, lantas Ibrahim pun memohon kepada Allah dengan berkata, "Wahai Tuhanku, Pemimpinku, Pemerintahku, janganlah engkau mempermalukan aku di hadapan seteru engkau ini".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai Ibrahim berdoa, tiba-tiba turunlah hidangan dari langit berisi dua keping roti, air minum, daging masak dan tamar. Maka mereka pun makan dan minum bersama-sama. Sesudah itu aku pun meneruskan perjalananku. Setelah tiga hari tanpa makanan dan minuman, dikala pagi, aku pun berkata kepada rahib itu, "Hai rahib Nasrani, berikanlah kepadaku sesuatu makanan yang ada padamu". Rahib itu menghadap kepada Allah, tiba-tiba turun hidangan dari langit seperti yang diturunkan kepadaku dulu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambung Ibrahim lagi, tatkala aku melihat yang demikian itu, maka aku pun berkata kepada rahib itu "Demi kemuliaan dan ketinggian Allah, tiadalah aku makan sehingga engkau memberitahukan (hal ini) kepadaku". Jawab rahib itu, "Hai Ibrahim, tatkala aku bersahabat denganmu, maka aku mengenal kemuliaanmu, lalu akupun memeluk agama engkau. Sesungguhnya aku telah membuang-buang masa di dalam kesesatan dan sekarang aku telah mendekati Allah dan berpegang kepadaNya. Dengan kemuliaan engkau, tiadalah Allah mempermalukan aku. Maka terjadilah kejadian yang engkau lihat sekarang ini. Aku telah mengucapkan seperti ucapanmu (kalimah Syahadah)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka gembiralah aku setelah mendengar jawaban rahib itu. Kemudian aku pun meneruskan perjalanan sehingga sampai di Makkah Al Mukarramah. Setelah kami mengerjakan haji, maka kami tinggal dua tiga hari lagi di tanah suci itu. Suatu ketika, rahib itu tidak kelihatan olehku, lalu aku mencarinya di Masjidil Haram, tiba-tiba aku mendapatinya sedang bersembahyang di sisi Ka’bah". Setelah rahib itu selesai bersembahyang maka dia pun berkata, "Hai Ibrahim, sesungguhnya sudah dekat perjumpaanku dengan Allah, maka jagalah olehmu persahabatan dan persaudaraanku denganmu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dia berkata begitu, tiba-tiba dia menghembuskan nafas terakhirnya. Seterusnya Ibrahim menceritakan, "Maka aku merasa amat berduka atas kepergiannya. Aku segera mengurus jenazahnya dan pemakamannya. Ketika tidur aku bermimpi melihat rahib itu dalam keadaan yang begitu elok sekali tubuhnya, dihiasi dengan pakaian sutera yang indah". Melihat hal itu, Ibrahim pun terus bertanya, "Bukankah engkau sahabatku, apakah yang telah dilakukan oleh Allah terhadap engkau?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjawab, "Aku berjumpa dengan Allah dengan dosa yang banyak, tetapi dimaafkan dan diampuniNya semua itu karena aku berprasangka baik kepadaNya dan Dia menjadikan aku seolah-olah bersahabat dengan engkau di dunia dan bertetangga dengan engkau di akhirat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah persahabatan diantara dua orang yang berpengetahuan dan beragama sehingga memperoleh hasil yang baik. Walaupun orang tersebut dulunya beragama lain, tetapi berkat keikhlasan dan pengabdiannya kepada Allah, dia ditunjukkan pada agama Islam dan bisa mendalami ajaran-ajarannya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Taubat Nabi Adam a.s.&lt;br /&gt;Tahukah saudara semenjak Nabi Adam dikeluarkan dari syurga akibat tipu daya iblis, beliau menangis selama 300 tahun. Nabi Adam tidak mengangkat kepalanya ke langit karena terlanjur malu kepada Allah SWT. Beliau sujud di atas gunung selama seratus tahun. Kemudian menangis lagi sehingga air matanya mengalir di jurang Serantip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari air mata Nabi Adam itulah Allah menumbuhkan pohon kayu manis dan pohon cengkeh. Beberapa ekor burung telah meminum air mata beliau. Burung itu berkata, "Sedap sekali air ini". Terdengar Nabi Adam oleh kata-kata burung tersebut. Beliau menyangka burung itu sengaja mengejeknya karena perbuatan durhakanya kepada Allah. Hal ini membuat Nabi Adam semakin hebat menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Allah menyampaikan wahyu kepada Nabi Adam "Hai Adam, sesungguhnya Aku belum pernah menciptakan air minum yang lebih lezat dan lebih hebat dari air mata taubatmu itu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Allah Maha Pengampun&lt;br /&gt;Di zaman Nabi Musa ada seorang fasik yang suka melakukan kejahatan. Penduduk negeri tersebut tidak mampu lagi mencegah perbuatannya, lalu mereka berdoa kepada Allah. Maka Allah mewahyukan kepada Nabi Musa supaya mengusir pemuda itu dari negerinya agar penduduknya tidak ditimpa bencana. Lalu keluarlah pemuda tersebut dari kampunganya dan sampai di suatu kawasan yang luas, dimana tidak seekor burung atau manusiapun hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa hari pemuda itu jatuh sakit. Merintihlah ia seorang diri, lalu berkata: "Wahai Tuhanku, kalaulah ibuku, ayahku dan isteriku berada di sisiku sudah tentu mereka akan menangis melihat waktu akan memisahkan aku dengan mereka (mati). Andaikata anak-anakku ada di sisiku pasti mereka berkata: "Ya Allah, ampunilah ayah kami yang telah banyak melakukan kejahatan sehingga ia diusir dari kampungnya ke tanah lapang yang tidak berpenghuni dan keluar dari dunia menuju akhirat dalam keadaan putus asa dari segala sesuatu kecuali rahmatMu ya Allah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir kali pemuda itu berkata, "Ya Allah, janganlah Engkau putuskan aku dari rahmatMu, sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa terhadap sesuatu",. Setelah berkata demikian, matilah pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi Musa, firmannya, "Pergilah kamu ke tanah lapang di sana ada seorang waliKu yang telah meninggal. Mandikan, kafankan dan sembahyangkanlah dia". Setiba di sana Nabi Musa mendapati yang mati itu adalah pemuda yang diusirnya dahulu. Lalu Nabi Musa berkata, "Ya Allah, bukankah dia ini pemuda fasik yang Engkau suruh aku usir dahulu". Allah berfirman, "Benar, Aku kasihan kepadanya karena rintihan sakitnya dan berjauhan dari keluarganya. Apabila seseorang yang tidak mempunyai saudara mati, maka semua penghuni langit dan bumi akan sama menangis karena kasihan kepadanya. Oleh karena itu bagaimana Aku tidak mengasihaninya sedangkan Aku adalah Dzat Yang Maha Penyayang di antara penyayang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Iblis Ingin Bertaubat&lt;br /&gt;Dalam sebuah kitab diterangkan bahwa sesungguhnya Iblis telah berjumpa dengan Nabi Musa dengan berkata: "Wahai Musa, engkau adalah utusan Allah SWT dan Dia telah berkata denganmu secara langsung". Kemudian Nabi Musa berkata: "Memang benar apa yang kau katakan, kamu ini siapa dan apa yang kamu inginkan dariku?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu berkata Iblis: "Aku adalah Iblis, Wahai Musa aku mau kamu menolongku, katakan kepada Tuhanmu bahwa seorang makhlukNya ingin minta taubat kepadaNya". Lalu Nabi Musa berdoa kepada Allah SWT dan menyampaikan apa yang diucapkan oleh Iblis, kemudian Allah SWT pun menurunkan wahyu yang kepada Nabi Musa: "Wahai Musa, katakan padanya bahwa sesungguhnya Aku berkenan menerima permohonannya, tetapi dengan syarat dia (Iblis) harus bersujud di kubur Adam, kalau dia mau bersujud, maka aku akan mengampuni segala dosanya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Nabi Musa menerima wahyu dari Allah SWT, maka Nabi Musa pun segera memberitahukan kepada Iblis tentang apa yang telah Allah perintahkan. Setelah selesai Nabi Musa memberitahukan segala perintah Allah SWT maka dengan sombong dan congkak Iblis berkata: "Wahai Musa, sewaktu Adam hidup di syurga saja aku tidak bersujud, bagaimana aku hendak sujud padanya sesudah dia mati". Begitulah sifat sombong Iblis walaupun dia tahu bahwa api neraka itu akan memakannya tapi dia tetap tidak mau beriman pada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadist diriwayatkan bahwa sesungguhnya Allah SWT mengeluarkan Iblis dari neraka setiap seratus tahun sekali, dan mengeluarkan Adam dari syurga, serta memerintahkan Iblis supaya sujud kepada Adam. Disebabkan sikap angkuhnya, dia tetap enggan bersujud, maka dikembalikan Iblis ke dalam neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Malaikat Rahmat dan Malaikat Adzab&lt;br /&gt;Pada zaman dahulu, ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang. Dia ingin menjumpai pendeta untuk meminta fatwa supaya dia dapat bertaubat dari dosanya. Ketika bertemu dengannya, dia pun menerangkan bahwa dia telah membunuh 99 orang dan bertanya padanya apakah dia masih mempunyai peluang untuk bertaubat. Pendeta dengan tegas mengatakan dia tidak bisa bertaubat karena dosanya terlalu banyak. Lelaki itu mejadi marah dan langsung membunuh pendeta itu, menjadikannya mangsa yang ke seratus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masih ingin bertaubat dan terus mencari kalau-kalau ada ulama yang bisa membantunya. Akhirnya dia berjumpa dengan seorang ulama. Dia menceritakan bahwa dia telah membunuh seratus orang dan bertanya apakah Allah masih menerima taubatnya. Ulama itu menerangkan dia masih mempunyai harapan untuk bertaubat. Seterusnya dia menyuruh lelaki itu pergi ke sebuah negeri di mana terdapat sekumpulan ‘abid (orang beribadat). Apabila sampai di sana nanti, ulama itu menyuruhnya tinggal di sana dan beribadat bersama mereka. Ulama itu melarangnya pulang ke negeri asalnya yang penuh dengan kemaksiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu mengucapkan terima kasih lalu pergi menuju negeri yang diterangkan oleh ulama tadi. Baru saja sampai setengah perjalanan, dia jatuh sakit lalu meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu terjadilah perdebatan antara dua malaikat, yaitu Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab. Malaikat Rahmat ingin membawa roh lelaki itu ke syurga karena pendapat dia adalah orang tersebut adalah baik lantaran niatnya untuk bertaubat, sementara Malaikat Azab mengatakan dia mati dalam keadaan su'ul khatimah karena dia telah membunuh seratus orang dan masih belum mempunyai amal kebajikan sedikitpun. Mereka saling berebutan dan tidak dapat memutuskan keadaan lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah kemudian mengantar seorang malaikat lain berupa manusia untuk mengadili perdebatan mereka berdua. Dia menyuruh malaikat itu mengukur jarak tempat kejadian itu dengan kedua-dua tempat, adakah tempat kejadian itu lebih dekat dengan tempat kebajikan yang akan dituju atau lebih dekat dengan tempat asalnya yang buruk?. Sekiranya jaraknya lebih dekat dengan tempat kebajikan, dia milik Malaikat Rahmat. Sebaliknya apabila jaraknya lebih dekat dengan tempat asalnya, dia milik Malaikat Azab. Setelah diukur, didapati jarak ke negeri kebajikan melebihi ukuran sejengkal saja. Lalu roh lelaki itu terus diambil oleh Malaikat Rahmat. Lelaki itu akhirnya mendapat pengampunan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Taubatnya Malik bin Dinar&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Malik bin Dinar, dia pernah ditanya tentang sebab-sebab dia bertaubat, maka dia berkata: "Aku adalah seorang polisi dan aku sedang asyik menikmati khamr (arak), kemudian aku beli seorang budak perempuan dengan harga mahal, maka dia melahirkan seorang anak perempuan, aku pun menyayanginya. Ketika dia mulai bisa berjalan, cintaku bertambah padanya. Setiap kali aku meletakkan minuman keras dihadapanku anak itu datang padaku dan mengambilnya dan menuangkannya di bajuku, ketika umurnya menginjak dua tahun dia meninggal dunia, maka aku pun sangat sedih atas musibah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika malam dipertengahan bulan Sya’ban pada malam Jum’at, aku meneguk khamr lalu tidur belum shalat isya'. Dalam tidur itu aku bermimpi seakan-akan kiamat itu terjadi, dan terompet sangkakala ditiup, orang mati dibangkitkan, seluruh makhluk dikumpulkan dan aku berada bersama mereka, kemudian aku mendengar sesuatu yang bergerak dibelakangku, ketika aku menoleh ke arahnya kulihat ular yang sangat besar berwarna hitam kebiru-biruan membuka mulutnya menuju kearahku, maka aku lari tunggang langgang karena ketakutan, ditengah jalan kutemui seorang syeikh yang berpakaian putih dengan wangi yang semerbak, maka aku ucapkan salam atasnya dia pun menjawabnya, dan aku berkata: "Wahai syeikh, tolong lindungilah aku dari ular ini"!. Maka syeikh itu menangis dan berkata padaku: "Aku orang yang lemah dan ular itu lebih kuat dariku dan aku tak mampu mengatasinya, bergegaslah engkau mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu", maka aku bergegas lari dan memanjat sebuah tebing Neraka hingga sampai pada ujung tebing itu, aku lihat kobaran api Neraka yang sangat dahsyat, hampir saja aku terjatuh kedalamnya karena rasa takutku pada ular itu. Namun pada waktu itu seorang menjerit memanggil-ku, "Kembalilah engkau karena engkau bukan penghuni Neraka itu!", aku pun tenang mendengarnya, maka turunlah aku dari tebing itu dan pulang. Sedang ular yang mengejarku kembali. Aku datangi syeikh tadi dan aku katakan, "Wahai syeikh, aku mohon kepadamu agar melindungiku dari ular itu namun engkau tak mampu berbuat apa-apa". Menangislah syeikh itu seraya berkata, "Aku seorang yang lemah tetapi pergilah ke gunung itu karena di sana terdapat banyak simpanan kaum muslimin, kalau engkau punya barang simpanan di sana maka barang itu akan menolongmu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat ke gunung yang bulat itu yang terbuat dari perak. Di sana ada setrika yang telah retak dan tirai-tirai yang tergantung yang setiap lubang cahaya mempunyai daun-daun pintu dari emas dan di setiap daun pintu itu mempunyai tirai sutera. Ketika aku lihat gunung itu, aku langsung lari karena aku menemui ular besar, tatkala ular itu mendekatiku, para malaikat berteriak: "Angkatlah tirai-tirai itu dan bukalah pintu-pintunya dan mendakilah kesana!" Mudah-mudahan dia punya barang titipan di sana yang dapat melindunginya dari musuhnya (ular). Ketika tirai-tirai itu diangkat dan pintu-pintu telah dibuka, ada beberapa anak dengan wajah berseri mengawasiku dari atas. Ular itu semakin mendekat padaku maka aku kebingungan, berteriaklah anak-anak itu: "Celakalah kamu sekalian! Cepatlah naik semuanya karena ular besar itu telah mendekatinya". Maka naiklah mereka dengan serentak, aku lihat anak perempuanku yang telah meninggal ikut mengawasiku bersama mereka. Ketika dia melihatku, dia menangis dan berkata: "Ayahku, demi Allah!" Kemudian dia me-lompat bagaikan anak panah yang dilepaskan, kemudian dia mengulurkan tangan kirinya pada tangan kananku dan menariknya, kemudian dia ulurkan tangan kanan-nya ke ular itu, namun binatang tersebut lari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia mendudukkanku dan dia duduk di pangkuanku, maka aku pegang tangan kanannya untuk menghelai jenggotku dan berkata: "Wahai ayahku! Ingatlah Firman Allah yang berbunyi "Belumlah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk menundukkan hati mereka kepada Allah".(QS. Al Hadid: 16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku menangis dan berkata: "Wahai anakku, kalian semua faham tentang Al Quran", maka dia berkata: "Wahai ayahku, kami lebih tahu tentang Al Quran darimu", aku berkata: "Ceritakanlah padaku tentang ular yang ingin membunuhku", dia menjawab: "Itulah pekerjaanmu yang buruk yang selama ini engkau kerjakan, maka Allah akan memasukkanmu ke dalam api Neraka", aku berkata: "Ceritakanlah tentang Syeikh yang berjalan di jalanku itu", dia menjawab: "Wahai ayahku, itulah amal sholeh yang sedikit hingga tak mampu menolongmu", aku berkata: "Wahai anakku, apa yang kalian perbuat di gunung itu?", dia menjawab : Kami adalah anak-anak orang muslimin yang di sini hingga terjadinya kiamat, kami menunggu kalian hingga datang pada kami kemudian kami memberi syafa'at kepada kalian". (HR. Muslim dalam shahihnya No. 2635).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Malik: "Maka akupun takut dan aku tuangkan seluruh minuman keras itu dan kupecahkan seluruh botol-botol minuman kemudian aku bertaubat pada Allah, dan inilah cerita tentang taubatku pada Allah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Taubat Tukang Fitnah&lt;br /&gt;Ada seorang tukang fitnah yang jatuh cinta kepada seorang gadis tetangganya. Suatu hari, keluarga gadis itu mengutusnya ke kampung lain untuk suatu keperluan. Mengetahui hal itu si tukang fitnah pun mengikutinya, lalu melontarkan bujuk rayunya kepada wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu berkata, "Jangan kau lakukan ini! Sebenarnya cintaku padamu melebihi cintamu kepada-ku, akan tetapi aku takut kepada Allah SWT”. Laki-laki itu berkata, "Kau takut pada Allah, sementara aku tidak takut kepadaNya?" Akhirnya laki-laki itu pulang dengan perasaan penuh tobat kepada Allah SWT. Dalam per-jalanannya ia didera rasa haus yang mencekik tenggorokannya. Dalam kondisi kritis itu tiba-tiba dia bertemu dengan utusan dari seorang nabi Bani Israil dan ditanya, "Mengapa kau ini?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Haus," jawabnya. Utusan itu berkata, "Ke sinilah, kita berdoa kepada Allah agar awan menaungi kita hingga sampai tujuan". Laki-laki tukang fitnah itu berkata, "Aku tidak mempunyai amal kebajikan". Utusan nabi itu berkata, "Aku yang berdoa dan engkau tinggal mengamini".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdoalah utusan itu dan si tukang fitnah mengaminkannya. Tidak lama kemudian datang awan menaungi mereka hingga mereka tiba di kampung tujuan. Setelah sampai, si tukang fitnah memasuki rumahnya, sedangkan awan itu mengikutinya. Sebelum utusan itu pulang dia berkata, "Engkau telah mengaku tidak mempunyai amal kebajikan, padahal ketika aku berdoa dan engkau mengamin kannya, serta merta awan itu menaungi kita, kemudian aku mengikutimu agar engkau memberitahuku apa sebenarnya yang telah terjadi denganmu". Lalu tukang fitnah menceritakan kisahnya kepada utusan itu. Maka berkatalah utusan nabi itu, "Orang bertobat kepada Allah mendapat kedudukan yang dimana tidak ada seorangpun menyamai kedudukannya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Paku di Tiang&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang silam, ada seorang ikhwah yang mempunyai seorang anak lelaki bernama Mat. Mat membesar menjadi seorang yang lalai menunaikan seruan agama. Meskipun telah banyak berbuih ajakan dan nasihat, seruan dan perintah dari ayahnya agar Mat bersembahyang, puasa, zakat dan lain-lain, dia tetap meninggalkannya. Sebaliknya amal kejahatan pula yang menjadi rutinitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari seorang ikhwah tersebut memanggil anaknya dan berkata, "Mat, kau ini sangat lalai dan terlalu banyak berbuat kemungkaran. Mulai hari ini aku akan tancapkan satu paku ke tiang di tengah halaman rumah kita. Setiap kali kau berbuat satu kejahatan, maka aku akan tancapkan satu paku ke tiang ini. Dan setiap kali kau berbuat satu kebajikan, sebatang paku akan kucabut keluar dari tiang ini". Ayahnya berbuat seperti mana yang dia janjikan, setiap hari dia akan memukul beberapa batang paku ke tiang tersebut. Kadang-kadang sampai berpuluh paku dalam satu hari. Jarang-jarang benar dia mencabut keluar paku dari tiang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari silih berganti, beberapa purnama berlalu, dari musim hujan berganti kemarau panjang. Tahun demi tahun beredar. Tiang yang berdiri megah di halaman kini telah hampir dipenuhi dengan tusukan paku-paku dari bawah sampai ke atas. Hampir setiap permukaan tiang itu dipenuhi dengan paku-paku. Ada yang berkarat karena hujan dan panas. Setelah melihat keadaan tiang yang bersusukan dengan paku-paku yang menjijikkan tersebut, timbullah rasa malu. Maka dia pun beniat untuk memperbaiki dirinya. Mulai detik itu, Mat mulai sembahyang. Hari itu saja lima butir paku dicabut ayahnya dari tiang. Besoknya sembahyang lagi ditambah dengan sunnah-sunnahnya. Lebih banyak lagi paku tercabut. Hari berikutnya Mat tinggalkan sisa-sisa maksiat yang melekat. Maka semakin banyaklah tercabut paku-paku tadi. Hari demi hari, semakin banyak kebaikan yang Mat lakukan dan semakin banyak maksiat yang ia tinggalkan, hingga akhirnya hanya tinggal sebatang paku yang tinggal melekat di tiang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ayahnya pun memanggil anaknya dan berkata, "Lihatlah anakku, ini paku terakhir, dan aku akan mencabutnya sekarang. Tidakkah kamu gembira?" Mat merenung pada tiang tersebut, dia mulai menangis tersedak-sedak. "Kenapa anakku?" tanya ayahnya, "Aku menyangka kau gembira karena semua paku-paku tadi telah tiada". Dalam nada yang sayu Mat mengeluh, "Wahai ayahku, sungguh benar katamu, paku-paku itu telah tiada, tapi aku bersedih lubang-lubang dari paku itu tetap ada ditiang, bersama dengan karatnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang dimuliakan, dengan dosa-dosa dan kemungkaran yang seringkali diulangi hingga akan menjadi suatu kebiasaan, dan kita mungkin bisa mengatasinya atau secara berangsur-angsur kita dapat menghapuskannya, tetapi ingatlah bahwa bekas yang ia tinggalkanya tidak akan hilang. Dari situ, bilamana kita merenungi untuk melakukan suatu kemungkaran, ataupun sedang berniat melakukan kemungkaran, maka berhentilah. Karena setiap kali kita bergelimang dalam kemungkaran, maka kita telah membenamkan sebilah paku lagi yang akan meninggalkan bekas lubang pada jiwa kita, meskipun paku itu kita cabut kemudiannya. Apa lagi kalau kita biarkan sampai berkarat dalam diri ini sebelum dicabut. Lebih-lebih lagilah kalau dibiarkan berkarat dan tak dicabut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;Bambang TP&lt;br /&gt;Santri Nurul Huda semester akhir di Madrasah Nurul Huda. Tahun ini mendapat bantuan Bea Siswa dari Yayasan PPSSNH untuk melanjutkan kuliah S1 di Universitas Kanjuruhan Malang&lt;br /&gt;http://pesantren.or.id.29.masterwebnet.com/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/kisah-orang-taubat-31oct06.single/&lt;br /&gt;26 Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4347253951497962972-819262007635746148?l=aa-taubat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aa-taubat.blogspot.com/feeds/819262007635746148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/manusia-memang-dicipta-allah-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/819262007635746148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/819262007635746148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/manusia-memang-dicipta-allah-dengan.html' title='Kisah Orang-orang Taubat'/><author><name>Akang Ganteng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14636739127904972103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4347253951497962972.post-5591012976186624095</id><published>2009-08-25T17:40:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T17:41:34.448-07:00</updated><title type='text'>Syarat Agar Taubat Diterima</title><content type='html'>Memang manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Namun manusia yang terbaik bukanlah manusia yang tidak pernah melakukan dosa sama sekali, akan tetapi manusia yang terbaik adalah manusia yang ketika dia berbuat kesalahan dia langsung bertaubat kepada Alloh dengan sebenar-benar taubat. Bukan sekedar tobat sesaat yang diiringi niat hati untuk mengulang dosa kembali. Lalu bagaimanakah agar taubat seorang hamba itu diterima?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Taubat Diterima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar taubat seseorang itu diterima, maka dia harus memenuhi tiga hal yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Menyesal, (2) Berhenti dari dosa, dan (3) Bertekad untuk tidak mengulanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taubat tidaklah ada tanpa didahului oleh penyesalan terhadap dosa yang dikerjakan. Barang siapa yang tidak menyesal maka menunjukkan bahwa ia senang dengan perbuatan tersebut dan menjadi indikasi bahwa ia akan terus menerus melakukannya. Akankah kita percaya bahwa seseorang itu bertaubat sementara dia dengan ridho masih terus melakukan perbuatan dosa tersebut? Hendaklah ia membangun tekad yang kuat di atas keikhlasan, kesungguhan niat serta tidak main-main. Bahkan ada sebagian ulama yang menambahkan syarat yang keempat, yaitu tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut. sehingga kapan saja seseorang mengulangi perbuatan dosanya, jelaslah bahwa taubatnya tidak benar. Akan tetapi sebagian besar para ulama tidak mensyaratkan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunaikan Hak Anak Adam yang Terzholimi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dosa tersebut berkaitan dengan hak anak Adam, maka ada satu hal lagi yang harus ia lakukan, yakni dia harus meminta maaf kepada saudaranya yang bersangkutan, seperti minta diikhlaskan, mengembalikan atau mengganti suatu barang yang telah dia rusakkan atau curi dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apabila dosa tersebut berkaitan dengan ghibah (menggunjing), qodzaf (menuduh telah berzina) atau yang semisalnya, yang apabila saudara kita tadi belum mengetahuinya (bahwa dia telah dighibah atau dituduh), maka cukuplah bagi orang telah melakukannya tersebut untuk bertaubat kepada Alloh, mengungkapkan kebaikan-kebaikan saudaranya tadi serta senantiasa mendoakan kebaikan dan memintakan ampun untuk mereka. Sebab dikhawatirkan apabila orang tersebut diharuskan untuk berterus terang kepada saudaranya yang telah ia ghibah atau tuduh justru dapat menimbulkan peselisihan dan perpecahan diantara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmat Dibukanya Pintu Taubat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Alloh menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Alloh bukakan pintu taubat baginya. Sehingga ia benar-benar menyesali kesalahannya, merasa hina dan rendah serta sangat membutuhkan ampunan Alloh. Dan keburukan yang pernah ia lakukan itu merupakan sebab dari rahmat Alloh baginya. Sampai-sampai setan akan berkata, “Duhai, seandainya aku dahulu membiarkannya. Andai dulu aku tidak menjerumuskannya kedalam dosa sampai ia bertaubat dan mendapatkan rahmat Alloh.” Diriwayatkan bahwa seorang salaf berkata, “Sesungguhnya seorang hamba bisa jadi berbuat suatu dosa, tetapi dosa tersebut menyebabkannya masuk surga.” Orang-orang bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Dia menjawab, “Dia berbuat suatu dosa, lalu dosa itu senantiasa terpampang di hadapannya. Dia khawatir, takut, menangis, menyesal dan merasa malu kepada Robbnya, menundukkan kepala di hadapan-Nya dengan hati yang khusyu’. Maka dosa tersebut menjadi sebab kebahagiaan dan keberuntungan orang itu, sehingga dosa tersebut lebih bermanfaat baginya daripada ketaatan yang banyak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;Abu Hudzaifah Yusuf&lt;br /&gt;http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/syarat-taubat-diterima.html&lt;br /&gt;26 Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4347253951497962972-5591012976186624095?l=aa-taubat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aa-taubat.blogspot.com/feeds/5591012976186624095/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/syarat-agar-taubat-diterima.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/5591012976186624095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/5591012976186624095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/syarat-agar-taubat-diterima.html' title='Syarat Agar Taubat Diterima'/><author><name>Akang Ganteng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14636739127904972103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4347253951497962972.post-464318201886013945</id><published>2009-08-25T17:36:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T17:39:22.907-07:00</updated><title type='text'>Taubat Nasuha</title><content type='html'>Taubat adalah kembali kepada Allah setelah melakukan maksiat. Taubat marupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya agar mereka dapat kembali kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam tidak memandang manusia bagaikan malaikat tanpa kesalahan dan dosa sebagaimana Islam tidak membiarkan manusia berputus asa dari ampunan Allah, betapa pun dosa yang telah diperbuat manusia. Bahkan Nabi Muhammad telah membenarkan hal ini dalam sebuah sabdanya yang berbunyi: "Setiap anak Adam pernah berbuat kesalahan/dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang bertaubat (dari kesalahan tersebut)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kita pernah berbuat kesalahan terhadap diri sendiri sebagaimana terhadap keluarga dan kerabat bahkan terhadap Allah. Dengan segala rahmatnya, Allah memberikan jalan kembali kepada ketaatan, ampunan dan rahmat-Nya dengan sifat-sifat-Nya yang Maha Penyayang dan Maha Penerima Taubat. Seperti diterangkan dalam surat Al Baqarah: 160 "Dan Akulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taubat dari segala kesalahan tidaklah membuat seorang terhina di hadapan Tuhannya. Hal itu justru akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya karena sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri. Sebagaimana firmanya dalam surat Al-Baqarah: 222, "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taubat dalam Islam tidak mengenal perantara, bahkan pintunya selalu terbuka luas tanpa penghalang dan batas. Allah selalu menbentangkan tangan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya. Seperti terungkap dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu musa Al-Asy`ari: "SesungguhnyaAllah membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merugilah orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan membiarkan dirinya terus-menerus melampai batas. Padahal, pintu taubat selalu terbuka dan sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya karena sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepatlah kiranya firman Allah dalam surat Ali Imran ayat: 133, "Bersegaralah kepada ampunan dari tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taubat yang tingkatannya paling tinggi di hadapan Allah adalah "Taubat Nasuha", yaitu taubat yang murni. Sebagaimana dijelaskan dalam surat At-Tahrim: 66, "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bresamanya, sedang cahaya mereka memancar di depan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan 'Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kamidan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu'".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taubat Nasuha adalah bertaubat dari dosa yang diperbuatnya saat ini dan menyesal atas dosa-dosa yang dilakukannya di masa lalu dan brejanji untuk tidak melakukannya lagi di masa medatang. Apabila dosa atau kesalahan tersebut terhadap bani Adam (sesama manusia), maka caranya adalah dengan meminta maaf kepadanya. Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat, "Apakah penyesalan itu taubat?", "Ya", kata Rasulullah (H.R. Ibnu Majah). Amr bin Ala pernah mengatakan: "Taubat Nasuha adalah apabila kamu membenci perbuatan dosa sebagaimana kamu pernah mencintainya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bulan pengampunan, Ramadhan yang "Syahrul Maghfirah" ini adalah saat yang tepat untuk kita bertaubat. Bagi yang sudah bertaubat mari memperbarui taubatnya dan yang belum taubat mari bergegas kepada ampunan Allah. 10 hari kedua bulan Ramadhan merupakan masa maghfirah (ampunan) sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis riwayat Abu Haurairah "Ramadhan, awalnya Rahmah, pertengahannya Maghfirah, dan akhirnya dibebaskan dari api neraka" (H.R. Ibnu Huzaimah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menjalankan ibadah puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;Muhajriin Abdul Qadir, Lc&lt;br /&gt;http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?&lt;br /&gt;option=com_content&amp;task=view&amp;id=1015&amp;Itemid=14&lt;br /&gt;26 Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4347253951497962972-464318201886013945?l=aa-taubat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aa-taubat.blogspot.com/feeds/464318201886013945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/taubat-nasuha.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/464318201886013945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4347253951497962972/posts/default/464318201886013945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aa-taubat.blogspot.com/2009/08/taubat-nasuha.html' title='Taubat Nasuha'/><author><name>Akang Ganteng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14636739127904972103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
